Suara Kami

Cepat, Akurat, dan Terpercaya

Advertisement

Karhutla Gumai Membara, Kebun Warga Mati dan Asap Kepung Gelumbang

MUARAENIM , SUARAKAMI — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Gumai, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, bukan sekadar meninggalkan lahan hangus. Kobaran api juga mengancam sumber penghidupan warga, mematikan tanaman sawit dan karet, serta memicu kepungan asap pekat di kawasan Gelumbang Raya.

Dampak kebakaran mulai dirasakan langsung masyarakat. Sejumlah kebun milik warga yang berada tidak jauh dari kawasan hutan ikut terdampak api. Tanaman yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi warga kini sebagian hanya menyisakan batang, ranting, dan lahan yang menghitam.

Salah satu warga yang mengalami kerugian adalah Muzi bin Muchtar, pemilik kebun sawit seluas sekitar satu hektare di Desa Gumai. Tanaman sawit miliknya dilaporkan mati akibat terdampak Karhutla.

Warga Desa Gumai, Kusnadi Sanusi, mengatakan kondisi kemarau dengan cuaca panas dan kering membuat kebakaran mudah meluas. Sejumlah kebun karet dan sawit warga ikut terbakar karena lokasinya berdekatan dengan kawasan hutan.

“Karena musim kemarau dan kondisi panas seperti sekarang, kebakaran mudah terjadi. Beberapa kebun karet dan sawit warga ikut terbakar karena lokasinya tidak jauh dari hutan,” ujar Kusnadi, Rabu (26/8/2026).

Menurutnya, kebakaran tersebut menjadi pukulan berat bagi masyarakat karena kebun karet maupun sawit merupakan salah satu sumber utama penghasilan warga.

“Terbakarnya kebun karet yang menjadi tulang punggung perekonomian warga kini hanya menyisakan puing-puing ranting dan batang pohon yang menjadi abu,” katanya.

Asap Pekat Ganggu Aktivitas Warga

Dampak Karhutla tidak berhenti pada kerusakan lahan. Asap pekat dilaporkan menyelimuti sejumlah wilayah Gelumbang Raya, terutama menjelang akhir Agustus ketika kondisi kemarau masih berlangsung.

Kabut asap menyebabkan jarak pandang warga terganggu secara signifikan. Kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri bagi masyarakat karena asap tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, RSUD Gelumbang juga mencatat peningkatan kunjungan pasien rawat jalan dengan keluhan penyakit pernapasan. Sedikitnya terdapat 12 kasus yang disebut berkaitan dengan komplikasi paru, antara lain bronkopneumonia, bronkitis, dan asma.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa Karhutla bukan hanya persoalan lingkungan. Ketika asap masuk ke ruang hidup masyarakat, dampaknya dapat merembet menjadi persoalan kesehatan dan ekonomi.

Lahan Terbakar Tembus 10 Hektare

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, akumulasi titik api selama puncak musim kemarau menyebabkan luas lahan yang terbakar di kawasan Desa Gumai dan desa-desa sekitarnya dilaporkan telah mencapai lebih dari 10 hektare.

Upaya pemadaman dan penanganan terus dilakukan tim gabungan. Personel Polsek Gelumbang, Manggala Agni Daops Sumatera, BPBD, Koramil, perangkat desa, serta masyarakat bergerak melakukan pengecekan lapangan dan penyiraman di sejumlah titik yang masih berpotensi menimbulkan api.

Namun proses pemadaman menghadapi medan yang tidak mudah. Kondisi lahan yang kering, tiupan angin yang cukup kencang, keterbatasan sumber air, serta akses menuju lokasi titik api yang sulit dilalui kendaraan menjadi tantangan tersendiri bagi petugas.

Api yang muncul di kawasan lahan kering juga memiliki potensi cepat menjalar apabila tidak segera dikendalikan. Karena itu, selain pemadaman, pengawasan terhadap titik-titik rawan kebakaran menjadi sangat penting.

Jangan Tunggu Api Membesar

Karhutla di Gumai kembali menunjukkan bahwa kebakaran lahan bukan sekadar persoalan ketika api sudah berkobar. Kerugian justru mulai terjadi sejak tanaman warga mati, udara tercemar asap, aktivitas masyarakat terganggu, hingga muncul risiko terhadap kesehatan.

Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari kebun, satu hektare lahan bukan sekadar angka. Di dalamnya terdapat modal, waktu, tenaga, dan sumber penghasilan keluarga.

Karena itu, pencegahan harus menjadi garis depan. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar.

Sebab ketika hutan dan lahan sudah berubah menjadi bara, yang terbakar bukan hanya vegetasi.

Yang ikut terbakar adalah kebun warga, sumber ekonomi keluarga, kualitas udara, dan rasa aman masyarakat. ()

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *