Suara Kami

Cepat, Akurat, dan Terpercaya

Advertisement

JARI: “Antara Kemajuan dan Kehilangan Jati Diri”

JARI: “Antara Kemajuan dan Kehilangan Jati Diri”

 

Suasana warung kopi sederhana namun ramai. Asap kopi tubruk bercampur dengan obrolan ringan para pengunjung. Di sudut ruangan, lima orang duduk melingkar: Dr. Ade Indra Chaniago, M.Si, akademisi filsafat; Indra Darmawan, budayawan; Juliansyah, jurnalis idealis asal Ogan Ilir; Ferry Lesmana, tokoh masyarakat Tulung Selapan OKI; dan Andi Wijaya, tokoh masyarakat 32 Ilir Palembang. Secangkir kopi hitam pekat di hadapan masing-masing.

 

Juliansyah (membuka percakapan sambil menunjuk artikel di gawainya): Uda Ade, saya membaca artikel ini tentang Fukuyama. Ia khawatir bioteknologi akan mengubah kodrat manusia. Kita semua akan seperti di Brave New World—sehat, bahagia, tapi hampa. Pertanyaan saya: apa yang sebenarnya terjadi jika tidak ada filsuf yang memperhatikan perkembangan bioteknologi? Apakah kita benar-benar akan berakhir di dunia seperti itu?

Dr. Ade Indra Chaniago (menyeruput kopi, tersenyum tipis): Pertanyaanmu tepat, Jul. Fukuyama bukanlah filsuf pertama yang khawatir. Huxley sudah menulis Brave New World pada 1932—sebuah dunia di mana manusia direkayasa untuk bahagia, tapi kehilangan kemanusiaannya. Fukuyama mengambil kekhawatiran itu dan membawanya ke ranah politik.

Tapi yang menarik, Fukuyama dulu adalah optimis. Tahun 1989 ia menulis Akhir Sejarah, meramalkan demokrasi liberal akan menyebar ke seluruh dunia. Kini ia justru khawatir: bioteknologi bisa mengancam demokrasi liberal itu sendiri. Mengapa? Karena bioteknologi bisa mengubah kodrat manusia—dan demokrasi liberal dibangun di atas asumsi bahwa semua manusia setara secara kodrati.

Indra Darmawan (mengangguk-angguk): Jadi kalau kodrat manusia bisa direkayasa, kesetaraan itu hilang?

Dr. Ade Indra Chaniago: Persis. Fukuyama percaya ada “Faktor X”—esensi universal manusia yang mencakup kesadaran, bahasa, kecerdasan, emosi, dan pilihan moral. Faktor X inilah yang memberi kita martabat. Jika bioteknologi mengubah Faktor X, maka martabat manusia terancam.

Ferry Lesmana (menyela): Tapi Uda Ade, saya orang awam. Saya melihat obat seperti Prozac dan Ritalin justru membantu banyak orang. Apakah itu buruk?

Dr. Ade Indra Chaniago: Tidak semua buruk, Ferry. Fukuyama sendiri mengakui obat-obatan itu banyak membantu. Yang ia khawatirkan adalah ketika teknologi melangkah lebih jauh—rekayasa genetika, bayi rancangan (designer babies), perpanjangan usia yang ekstrem. Bayangkan jika suatu hari kita bisa memilih gen anak kita: tinggi, cerdas, tampan. Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak punya akses? Muncullah kelas baru: gene-rich dan gene-poor.

Andi Wijaya (menambahkan): Seperti di film GATTACA itu ya, Uda? Masyarakat terbagi antara yang direkayasa genetiknya dan yang alami.

Dr. Ade Indra Chaniago: Tepat sekali, Andi. Tapi Fukuyama tidak sekadar melarang. Ia mengusulkan jalan tengah: bioteknologi tidak boleh ditentang habis-habisan, tidak boleh diserahkan ke pasar bebas, dan aborsi tidak boleh dilarang secara mutlak. Ia ingin lembaga internasional yang mengatur, yang bisa menarik “garis merah”: sejauh ini dan tidak lebih jauh!

Juliansyah (menyipitkan mata): Tapi Uda, bukankah ada kelemahan dalam argumen Fukuyama? Saya membaca bahwa ia mendefinisikan kodrat manusia sebagai sesuatu yang berasal dari gen, bukan lingkungan. Lalu ia berkata kita harus melindungi kodrat itu demi martabat manusia. Tapi bukankah itu lingkaran setan? Kita melindungi kodrat karena kodrat itu berharga, dan kodrat itu berharga karena kita melindunginya?

Dr. Ade Indra Chaniago (tersenyum lebar): Kau memang jurnalis idealis, Jul. Itulah kritik paling tajam terhadap Fukuyama. Ia terjebak dalam lingkaran setan (circular reasoning). Ia ingin melindungi kodrat manusia, tapi definisinya tentang kodrat manusia itu sendiri sudah dipertanyakan.

Ferry Lesmana: Lalu bagaimana kita tahu mana yang benar?

Indra Darmawan: Mungkin kita perlu mendengar dari perspektif lain. Uda, bagaimana pandangan filsuf lain tentang ini?

Dr. Ade Indra Chaniago (mengambil napas panjang): Baik, mari kita telusuri satu per satu.

Pertama, dari tradisi filsafat Barat, Kant mengajarkan bahwa martabat manusia tidak bisa diberi harga—ia adalah nilai intrinsik yang menjadikan manusia sebagai tujuan, bukan alat. Fukuyama sejalan dengan Kant di sini. Tapi Kant juga menekankan otonomi: manusia harus bebas menentukan dirinya sendiri. Nah, jika bioteknologi justru memberi manusia lebih banyak kendali atas dirinya, bukankah itu memperkuat otonomi?

Juliansyah:
Jadi Kant mungkin tidak sepenuhnya setuju dengan Fukuyama?

Dr. Ade Indra Chaniago:
Tepat. Kant akan bertanya: apakah pengaturan global yang diusulkan Fukuyama tidak justru membatasi otonomi manusia?

Ferry Lesmana: Lalu bagaimana dengan Habermas, Uda? Saya pernah dengar namanya.

Dr. Ade Indra Chaniago: Habermas, filsuf Jerman, juga prihatin dengan rekayasa genetika. Tapi ia mendekatinya dari sisi yang berbeda. Habermas khawatir bahwa jika orang tua bisa merancang gen anaknya, maka anak itu tidak lagi bisa menganggap dirinya sebagai “makhluk yang lahir secara alami”. Ia kehilangan otonomi eksistensialnya. Jadi bagi Habermas, masalahnya bukan pada kodrat manusia secara abstrak, tapi pada kondisi kemungkinan otonomi manusia itu sendiri.

Andi Wijaya: Berarti Habermas juga menolak rekayasa genetika?

Dr. Ade Indra Chaniago: Ia tidak menolak secara mutlak. Tapi ia ingin ada diskusi demokratis yang melibatkan warga negara sebelum keputusan besar diambil. Ia menolak “eugenika liberal” di mana orang tua bebas merancang anaknya sesuka hati.

Juliansyah (mencatat di buku catatannya): Bagaimana dengan Heidegger, Uda? Saya ingat ia banyak bicara tentang teknologi.

Dr. Ade Indra Chaniago (mengangguk): Heidegger melihat teknologi modern bukan sekadar alat, tapi sebuah cara membuka dunia (world-disclosure). Esensi teknologi adalah Gestell atau enframing—cara kita memandang segala sesuatu, termasuk manusia, sebagai bahan baku yang siap dieksploitasi. Dalam enframing, manusia menjadi “sumber daya” (standing-reserve) yang bisa dihitung, diukur, dan dioptimalkan.

Indra Darmawan: Jadi Heidegger akan melihat bioteknologi sebagai puncak dari cara berpikir yang salah?

Dr. Ade Indra Chaniago: Ya. Heidegger mengingatkan bahwa teknologi modern membuat kita lupa pada Being—pada keberadaan itu sendiri. Kita sibuk mengatur dan membentuk dunia sesuai keinginan kita, tapi kita lupa bertanya: apa artinya menjadi manusia? Bagi Heidegger, pertanyaan itu justru yang paling penting.

Ferry Lesmana: Berarti Heidegger akan setuju dengan Fukuyama?

Dr. Ade Indra Chaniago: Setuju dalam kekhawatiran, tapi tidak dalam solusi. Heidegger tidak akan mengusulkan lembaga pengatur global. Ia akan mengajak kita merenung: bagaimana kita bisa hidup secara lebih otentik di tengah teknologi?

Juliansyah: Lalu Foucault, Uda? Saya sering membaca tentang biopower-nya.

Dr. Ade Indra Chaniago (tersenyum): Foucault memberikan perspektif yang sangat berbeda. Ia memperkenalkan konsep biopower dan biopolitics—kekuasaan yang bekerja bukan melalui hukum dan larangan, tapi melalui pengelolaan kehidupan biologis populasi.

Andi Wijaya: Maksudnya?

Dr. Ade Indra Chaniago: Negara tidak lagi hanya melarang atau menghukum. Negara mengatur kelahiran, kesehatan, seksualitas, dan kematian. Bioteknologi adalah instrumen sempurna untuk biopower. Melalui bioteknologi, negara—atau kekuatan pasar—bisa mengoptimalkan populasi: menciptakan manusia yang lebih sehat, lebih produktif, lebih patuh.

Juliansyah: Jadi Foucault tidak akan khawatir tentang “kodrat manusia”—ia akan bertanya: kekuasaan siapa yang bekerja di balik bioteknologi?

Dr. Ade Indra Chaniago: Tepat sekali! Foucault tidak percaya ada “kodrat manusia” yang tetap. Manusia adalah konstruksi historis. Yang ia khawatirkan adalah normalisasi—tekanan untuk membuat semua orang sama, patuh, dan dapat diprediksi. Bioteknologi bisa menjadi alat normalisasi yang sangat kuat.

Ferry Lesmana: Jadi Foucault tidak peduli dengan martabat manusia?

Dr. Ade Indra Chaniago: Bukan tidak peduli. Tapi ia melihat martabat manusia sering digunakan sebagai dalih untuk kekuasaan. Siapa yang mendefinisikan “martabat”? Siapa yang berhak menarik garis merah? Pertanyaan-pertanyaan ini, bagi Foucault, lebih penting daripada definisi abstrak tentang kodrat manusia.

Indra Darmawan: Bagaimana dengan Hannah Arendt, Uda? Saya ingat ia bicara tentang natality.

Dr. Ade Indra Chaniago (mengangguk): Arendt memberikan sumbangan penting. Ia memperkenalkan konsep natality—fakta bahwa manusia dilahirkan, dan kelahiran itu membawa kemungkinan untuk memulai sesuatu yang baru.

Andi Wijaya: Apa hubungannya dengan bioteknologi?

Dr. Ade Indra Chaniago: Arendt khawatir bahwa teknologi akan mengubah kelahiran dari peristiwa alami yang penuh ketidakpastian menjadi proses teknis yang terkendali. Jika kelahiran bisa direkayasa, maka kemungkinan untuk memulai sesuatu yang baru—esensi dari tindakan politik—terancam.

Juliansyah: Jadi Arendt melihat bioteknologi sebagai ancaman bagi politik itu sendiri?

Dr. Ade Indra Chaniago: Ya. Politik, bagi Arendt, lahir dari fakta bahwa kita semua berbeda dan kita semua memulai sesuatu yang baru. Jika kita semua dirancang seragam, politik kehilangan maknanya.

Ferry Lesmana (menghela napas): Uda, saya jadi bingung. Begitu banyak filsuf dengan pendapat berbeda. Lalu bagaimana pandangan Islam tentang ini? Kita kan di Palembang, masyarakatnya religius.

Dr. Ade Indra Chaniago: Pertanyaan bagus, Ferry. Dalam Islam, ada beberapa prinsip yang relevan.

Pertama, Islam mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang dimuliakan (mukarram). Al-Qur’an menyatakan: “Dan sungguh Kami telah memuliakan anak-anak Adam” (QS. Al-Isra: 70). Kemuliaan ini adalah pemberian Tuhan, bukan hasil rekayasa manusia.

Kedua, Islam memiliki konsep fitrah—kodrat asal manusia yang diciptakan dalam keadaan suci. Mengubah fitrah secara fundamental bisa dianggap sebagai pelanggaran terhadap ciptaan Tuhan.

Ketiga, dalam bioetika Islam, ada prinsip maslahah—kemaslahatan umum. Ulama menggunakan maslahah untuk menimbang manfaat dan mudarat dari teknologi baru. Misalnya, MUI telah menghalalkan rekayasa genetika pada hewan dengan syarat tertentu. Jadi Islam tidak menolak bioteknologi secara mutlak.

Keempat, Islam melarang perubahan yang mengubah esensi spesies manusia (taghyir khalqillah). Ini sejalan dengan kekhawatiran Fukuyama tentang perubahan kodrat manusia.

Juliansyah: Jadi Islam memiliki posisi tengah?

Dr. Ade Indra Chaniago:
Ya. Islam menerima teknologi yang bermanfaat, tapi menolak yang mengubah esensi kemanusiaan. Ini mirip dengan posisi Fukuyama—jalan tengah antara penolakan total dan penerimaan tanpa batas.

Indra Darmawan (mengangkat cangkir kopinya): Tapi Uda, saya masih ingat satu kritik dalam artikel itu. Penulis bertanya: mengapa rasa ingin tahu, dorongan eksperimental, dan sifat mudah dibentuk yang melekat pada manusia tidak juga dianggap sebagai bagian dari kodratnya? Jika manipulasi diri adalah bagian dari kodrat manusia, mengapa tidak membiarkan evolusi ini berjalan?

Dr. Ade Indra Chaniago (termenung sejenak): Itulah pertanyaan paling mendasar, Indra. Fukuyama akan menjawab: modifikasi diri itu tidak alami karena melanggar kodrat manusia. Tapi kritiknya justru: siapa yang mendefinisikan apa yang “alami” dan apa yang tidak?

Ferry Lesmana: Jadi tidak ada jawaban pasti?

Dr. Ade Indra Chaniago: Tidak ada jawaban tunggal, Ferry. Tapi ada beberapa hal yang bisa kita pegang.

Pertama, kita perlu waspada terhadap klaim bahwa teknologi selalu membawa kemajuan. Fukuyama mengingatkan kita bahwa kemajuan teknis tidak otomatis berarti kemajuan moral.

Kedua, kita perlu diskusi publik yang melibatkan semua pihak—bukan hanya ilmuwan dan politisi, tapi juga filsuf, ulama, tokoh masyarakat, dan warga biasa. Seperti yang disarankan Habermas.

Ketiga, kita perlu mengakui bahwa pertanyaan tentang “apa itu manusia” tidak pernah selesai. Ini adalah pertanyaan filosofis yang akan terus kita perdebatkan.

Keempat, kita perlu keberanian untuk mengatakan “tidak” pada beberapa hal, bahkan jika secara teknis mungkin dilakukan. Fukuyama benar tentang satu hal: kita perlu garis merah. Tapi di mana garis itu? Itu yang harus kita diskusikan bersama.

Juliansyah (menutup buku catatannya): Jadi kesimpulannya, Uda?

Dr. Ade Indra Chaniago (tersenyum): Kesimpulannya, Jul: kita tidak bisa meninggalkan bioteknologi sepenuhnya, tapi kita juga tidak bisa membiarkannya tanpa kendali. Kita membutuhkan filsafat—bukan untuk memberikan jawaban pasti, tapi untuk terus mengajukan pertanyaan. Pertanyaan tentang siapa kita, siapa yang ingin kita jadi, dan apa artinya menjadi manusia di tengah teknologi yang terus berkembang.

Andi Wijaya: Seperti kata Socrates: “Hidup yang tidak dipertanyakan tidak layak dijalani.”

Dr. Ade Indra Chaniago (tertawa): Tepat sekali, Andi. Dan pertanyaan tentang bioteknologi adalah salah satu pertanyaan terpenting di zaman kita.

Ferry Lesmana (mengangkat cangkir): Mari kita diskusikan lagi lain waktu, Uda. Kopi ini masih hangat.

Semua (tertawa): Setuju!

Percakapan berlanjut di antara hiruk-pikuk warung kopi Pasar 16 Ilir. Di luar, matahari mulai condong ke barat. Tapi pertanyaan-pertanyaan tentang masa depan manusia—dan apa artinya menjadi manusia—masih menggantung di udara, menunggu untuk terus direnungkan.

 

Palembang, 26 Agustus 2026

Jaringan Aliansi Rakyat Independen

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *