Usai salat Ashar berjamaah di masjid dekat pasar, suasana sore terasa teduh. Empat orang duduk di kursi bambu di sebuah warung kopi tua dengan asap mengepul dari ceret di atas tungku. Ade Indra Chaniago, pengamat politik yang dikenal kritis, duduk di pojok ditemani Indra Darmawan. Di hadapan mereka, Juliansyah dan Edi Susanto jurnalis muda yang sering meliput kasus-kasus rakyat kecil sedang asyik berbicara dengan Ferry Lemana, tokoh masyarakat yang dikenal idealis.
Ferry Lemana (menyesap kopi hitamnya, lalu meletakkan cangkir dengan agak keras): Coba bayangkan. Setiap hari kita lihat sendiri di pasar ini. Ada pedagang kecil yang gigih, tapi hidupnya pas-pasan. Sementara di sisi lain, ada yang kaya raya dalam sekejap, tapi kita tidak pernah tahu dari mana hartanya. Keadilan itu seperti apa sih? Jangan-jangan cuma kata-kata indah di undang-undang.
Juliansyah (mengangguk, matanya tajam): Saya setuju, Kak Ferry. Sebagai jurnalis, saya sudah meliput banyak kasus. Lihat saja kasus mantan Direktur Utama ASDP, Ira Puspadewi. Perbedaan audit antara KPK dan konsultan independen sangat mencolok Rp1,2 triliun versus Rp19 miliar. Bayangkan, kalau aparat penegak hukum sendiri tidak bisa konsisten, bagaimana rakyat kecil bisa percaya?
Edi Susanto (menambahkan sambil mencatat di buku kecilnya): Itu baru satu kasus. Saya juga masih ingat kasus kriminalisasi debitur oleh OJK. Seorang pengusaha ditetapkan sebagai tersangka hanya karena kredit macet, padahal dia sudah menyerahkan agunan dua rumah senilai Rp300 juta. Ini bukan keadilan, ini over enforcement, penegakan hukum yang berlebihan dan menyimpang. Rakyat kecil yang berutang lima juta saja bisa dikejar-kejar, tapi yang utangnya milyaran malah dilindungi.
Indra Darmawan (menyandarkan punggung di kursi, berpikir): Kalau kita bicara ketimpangan, data BPS September 2025 mencatat masih ada 23,36 juta penduduk miskin di Indonesia. Rasio Gini memang turun jadi 0,363, tapi angka itu tetap menunjukkan kesenjangan. Kelompok 40 persen terbawah hanya menyumbang 18,65 persen dari total pengeluaran nasional. Itu artinya apa? Sebagian besar kekayaan masih dikuasai segelintir orang.
Ferry Lemana (mengepalkan tangan): Nah, itu dia! Rakyat kecil seperti pedagang di pasar ini, mereka bekerja dari subuh sampai malam, tapi tetap tidak bisa keluar dari lingkaran kemiskinan. Sementara kebijakan negara sering kali tidak berpihak kepada mereka. Pendidikan mahal, kesehatan mahal, hukum terasa tumpul ke bawah tapi tajam ke atas. Di mana keadilan?
Ade Indra Chaniago (menatap semua orang dengan tenang, lalu berbicara dengan suara pelan namun tegas): Ferry, pertanyaanmu sangat mendasar. Tapi izinkan saya sedikit mengurai. Hakikat kepemimpinan itu bukanlah duduk di singgasana, melainkan berkhidmat dan menjadi pelayan rakyat. Pemimpin adalah sosok yang menjamin kebebasan berpikir, berkreativitas, dan berijtihad. Tapi yang kita saksikan sekarang justru pemimpin yang lupa akan amanah.
Edi Susanto: Amanah itu apa sih, Uda Ade, dalam konteks nyata?
Ade Indra Chaniago: Amanah adalah tanggung jawab. Dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah yang bukan hanya dipertanggungjawabkan di dunia, tetapi juga di akhirat. Seorang pemimpin harus menjadi qudwah, keteladanan. Bukan sekadar ucapan, tapi juga tingkah laku.
Juliansyah (menyela): Tapi para pemimpin kita sekarang seringkali justru menjadi contoh sebaliknya, Uda.
Ade Indra Chaniago: Benar. Dan ini bukan hal baru. Imam Al-Ghazali sudah mengingatkan dalam kitab At-Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk lebih dari 900 tahun lalu. Beliau berkata: “Penguasa yang adil adalah orang yang memberikan keadilan kepada rakyatnya, dan berhati-hati dari kezaliman dan kerusakan. Penguasa yang zalim adalah petaka, kekuasaannya tidak akan bertahan dan tidak akan abadi”. Bahkan, kata Al-Ghazali, “Kekuasaan akan tetap ada meskipun dengan kekufuran, tetapi tidak akan tetap bertahan dengan kezaliman”. Artinya, keadilan itu lebih penting daripada sekadar label agama.
Indra Darmawan: Jadi, negara yang adil lebih utama daripada negara yang hanya mengklaim Islami tapi zalim?
Ade Indra Chaniago: Tepat sekali. Sejarah mencatat, kekuasaan Persia bertahan 4.000 tahun karena mereka menjunjung tinggi keadilan, meski bukan beragama Islam. Sebaliknya, banyak kerajaan Muslim yang runtuh justru karena kezaliman penguasanya.
Ferry Lemana (menunjuk ke arah Ade): Kalau begitu, bagaimana kriteria pemimpin yang ideal, Uda?
Ade Indra Chaniago: Hasan Al-Bashri, seorang sufi agung, memberi tiga analogi yang sangat indah. Pertama, pemimpin yang adil adalah pelurus dan pelindung, ia meluruskan yang bengkok, menegakkan keadilan, memperbaiki kerusakan, memberi kekuatan kepada yang lemah, dan menjadi tempat berlindung. Kedua, pemimpin yang adil ibarat penggembala yang penuh kasih terhadap gembalaannya. Rakyat adalah amanah yang harus dijaga dan dilindungi. Ketiga, pemimpin yang adil ibarat seorang ayah yang bertanggung jawab penuh kepada anak-anaknya.
Edi Susanto: Analoginya sangat gamblang, Uda.
Ade Indra Chaniago: Dan jangan lupa sabda Rasulullah SAW: “Menegakkan keadilan oleh seorang penguasa selama satu hari lebih dicintai oleh Allah daripada ibadah selama tujuh puluh tahun”. Itu menunjukkan betapa besar nilai keadilan di mata Tuhan.
Juliansyah (menunduk sebentar, lalu menatap Ade): Tapi Uda, kita bicara ideal. Di lapangan, seringkali pemimpin justru sibuk dengan kepentingan politik dan kekuasaan. Bagaimana menyikapi realitas pahit ini?
Ade Indra Chaniago: Kita tidak boleh berhenti mengkritik dan mengingatkan. Imam Al-Ghazali mengingatkan pemimpin agar tidak toleran terhadap kezaliman. Pemimpin harus tegas memberantas kezaliman, baik yang dilakukan dirinya sendiri maupun orang lain di bawah kepemimpinannya. Tapi di sisi lain, rakyat juga harus kritis. Demokrasi tanpa pengawasan rakyat adalah demokrasi yang mati.
Ferry Lemana: Jadi, rakyat juga punya tanggung jawab?
Ade Indra Chaniago: Tentu. Seperti kata Quraish Shihab, jika seorang pemimpin ditakdirkan membawa kesejahteraan dan menegakkan keadilan, rakyat juga punya tanggung jawab untuk mendukungnya. Tapi dukungan bukan berarti diam. Dukungan adalah kontrol, kritik yang membangun, dan partisipasi aktif dalam pembangunan.
Indra Darmawan (menarik napas dalam-dalam): Lalu, bagaimana dengan kesejahteraan? Banyak rakyat masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Ade Indra Chaniago: Kesejahteraan adalah buah dari keadilan. Lihatlah Umar bin Khattab. Suatu malam, beliau berjalan sendirian di Madinah dan mendengar tangisan anak kecil karena lapar. Tanpa pikir panjang, beliau memikul sendiri karung gandum dan minyak dari baitul mal, lalu memasak untuk mereka. Ketika ajudannya menawarkan bantuan, Umar berkata: “Apakah kamu akan memikul dosaku di hari kiamat?” Itulah kepemimpinan sejati—pemimpin yang memikul penderitaan rakyatnya, bukan sebaliknya. Di masa kepemimpinannya, administrasi zakat ditata rapi, mustahik menerima haknya, dan zakat tidak hanya konsumtif tapi juga memberdayakan. Bahkan di masa Umar bin Abdul Aziz, nyaris tidak ada orang yang mau menerima zakat karena semua sudah hidup cukup.
Juliansyah (terdiam sejenak, lalu berkata): Itu teladan yang luar biasa, Uda. Tapi hari ini, pemimpin lebih sibuk dengan proyek-proyek prestisius daripada melihat rakyat kelaparan.
Ade Indra Chaniago: Maka kita harus terus mengingatkan. Sebab, kata Al-Ghazali, kerusakan yang melanda suatu negeri sering terjadi di bawah kekuasaan raja-raja zalim. Kekejaman dan ketidakadilan meruntuhkan tatanan, dan rakyat menderita akibat kebijakan yang menindas.
Semakin sore, Lantunan salawat pertanda tak lama lagi adzan maghrib akan berkumandang. Namun diskusi belum selesai.
Ferry Lemana: Satu pertanyaan terakhir, Uda Ade. Di tengah semua ketidakadilan ini, apa pesan Uda untuk kami dan untuk siapa pun yang mendengar?
Ade Indra Chaniago (diam sejenak, lalu menatap satu per satu dengan penuh ketegasan. Suaranya pelan tapi menggetarkan):
“Kepemimpinan adalah ujian, bukan hadiah. Jika kalian diberi amanah untuk memimpin, ingatlah sabda Rasulullah: ‘Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya’. Maka pimpinlah dengan keadilan, karena keadilan adalah fondasi tegaknya negara.
Tapi ingat, keadilan bukan hanya tentang hukum. Keadilan adalah tentang memastikan tidak ada anak kecil yang menangis kelaparan di tengah malam. Keadilan adalah tentang memastikan pedagang kecil di pasar ini bisa hidup layak dari keringatnya sendiri. Keadilan adalah tentang memastikan yang lemah mendapat perlindungan, bukan penindasan.
Seorang pemimpin tidak perlu menjadi yang terpintar atau terkuat. Aristoteles pernah ditanya oleh Alexander Agung, manakah yang lebih utama bagi penguasa, keberanian atau keadilan? Aristoteles menjawab: ‘Apabila penguasa bisa bersikap adil, maka ia tidak lagi membutuhkan keberanian’. Karena dengan keadilan, segala sesuatu akan tertata. Rakyat akan makmur, negara akan kuat.
Maka kepada para pemimpin, saya katakan: jadilah adil. Kepada para calon pemimpin, saya katakan: persiapkan dirimu untuk berkhidmat, bukan untuk berkuasa. Dan kepada rakyat, saya katakan: jangan pernah diam. Kritik yang membangun adalah bentuk cinta kepada bangsa. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang rakyatnya berani menyuarakan kebenaran.
Ingatlah selalu: ‘Keadilan adalah kunci, dan tanpa itu, sebuah kekuasaan hanyalah sementara, menunggu waktu untuk runtuh’.”
Semua terdiam. Suara azan Magrib kini terdengar nyaring. Ade Indra Chaniago berdiri, merapikan sarungnya, dan berjalan menuju masjid di seberang pasar. Ferry, Juliansyah, Edi, dan Indra mengikutinya, masing-masing tenggelam dalam renungan.
Di langit Palembang yang mulai gelap, entah mengapa terasa ada secercah harapan baru.
Palembang, 13 Juli 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen








Leave a Reply