JARI: Menelusuri Jejak Peradaban untuk Keadilan Bangsa
Jumat pagi, pukul 08.00. Situs purbakala Sriwijaya di Gandus terhamar sunyi, ditemani oleh angin yang berbisik di antara sisa-sisa bata kuno. Lima orang duduk di atas pondasi candi yang telah lapuk, menghadap ke arah matahari yang mulai meninggi. Ade Indra Chaniago dan Indra Darmawan duduk di tengah, diapit oleh Andi Wijaya, Ferry Lesmana, dan Juliansyah. Sebuah artikel tentang Dialektika Pencerahan karya Adorno dan Horkheimer tergeletak di antara mereka.
Ade Indra Chaniago (menatap artikel di tangannya, lalu menatap keempat rekannya): Saudara-saudara, artikel ini mengajak kita merenungkan perjalanan panjang peradaban manusia. Adorno dan Horkheimer berbicara tentang Odyssey sebagai metafora perjalanan manusia dari mitos ke akal budi. Tapi izinkan saya memulai dari yang lebih dekat dengan kita dari kejayaan peradaban Islam yang pernah menyinari dunia.
Indra Darmawan (menyambung dengan antusias): Zaman Keemasan Islam adalah jawaban atas kegelisahan para filsuf Jerman itu. Lihatlah, ketika Eropa masih tenggelam dalam kegelapan Abad Pertengahan, peradaban Islam sudah membangun perpustakaan raksasa di Baghdad, menerjemahkan karya-karya Yunani dan India, dan menciptakan pengetahuan baru. Ini adalah contoh nyata bagaimana sebuah peradaban mampu bertransformasi dari mitos menuju pencerahan tanpa harus kehilangan jati dirinya.
Andi Wijaya (menyipitkan mata): Tapi bukankah di situlah letak ironi yang ditulis Adorno dan Horkheimer? Pencerahan yang awalnya bertujuan membebaskan manusia, pada akhirnya berbalik menjadi alat dominasi? Mereka menyebutnya ‘akal instrumental’ rasionalitas yang digunakan untuk menaklukkan, bukan untuk memanusiakan.
Ferry Lesmana (menyela dengan suara berat): Saya melihat itu dalam kehidupan sehari-hari, Uda Ade. Di Tulung Selapan, masyarakat kami dulunya hidup rukun dengan alam. Mereka punya kearifan lokal, gotong royong. Tapi sekarang? Akal instrumental telah merusak segalanya. Lahan direbut, sungai tercemar, rakyat dijadikan objek pembangunan. Ini bukan pencerahan, ini kebiadaban baru!
Ade Indra Chaniago (mengangguk pelan): Ferry, apa yang kau sampaikan mengingatkan saya pada kisah Odysseus dalam artikel ini. Odysseus, sang pahlawan cerdik, berhasil menaklukkan para dewa dan monster dengan kecerdikannya. Tapi lihatlah akhir dari cerita itu, setelah dua puluh tahun mengembara dan bertahan, ia pulang ke Ithaca dan membantai para pelamar Penelope dengan darah dingin. Pencerahan yang ia raih ternyata berujung pada kekerasan. Ini yang disebut Adorno dan Horkheimer sebagai ‘dialektika’: mitos sudah mengandung benih pencerahan, tapi pencerahan juga bisa berubah menjadi mitos baru.
Juliansyah (mencatat dengan tekun): Kalau begitu, bagaimana kita bisa keluar dari lingkaran setan ini, Uda?
Indra Darmawan: Di sinilah peradaban Islam memberikan pelajaran berharga. Lihatlah bagaimana para ilmuwan Muslim pada abad ke-9 hingga ke-13 Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, mereka tidak sekadar menerjemahkan pengetahuan Yunani, tetapi mengembangkannya dengan cara yang kontekstual dan humanis. Mereka tidak menggunakan akal untuk menaklukkan alam secara membabi buta, tetapi untuk memahami tanda-tanda kebesaran Tuhan.
Andi Wijaya: Ini mirip dengan yang dikatakan Quraish Shihab tentang ‘pencerahan Islam’ bahwa wahyu dan akal harus berjalan beriringan. Bukan akal yang menguasai wahyu, dan bukan wahyu yang mematikan akal. Tapi bagaimana dengan di Indonesia? Bukankah kita juga pernah punya masa kejayaan?
Ferry Lesmana: Sriwijaya, misalnya! Situs di sekitar kita ini adalah bukti bahwa nenek moyang kita sudah punya peradaban maju sebelum Islam datang. Dan ketika Islam masuk, ia tidak menghancurkan budaya lokal, tetapi memperkayanya. Itulah Islam yang saya kenal Islam yang toleran, yang menghargai kearifan lokal.
Ade Indra Chaniago (mengambil sepotong bata kuno yang tergeletak di sampingnya): Bata ini, Ferry, adalah saksi bisu kejayaan Sriwijaya. Tapi juga saksi keruntuhannya. Kenapa kerajaan sebesar ini bisa runtuh? Karena ketika kekuasaan hilang kendali, ketika pemimpin lebih sibuk dengan intrik istana daripada kesejahteraan rakyat, maka peradaban pun hancur. Ini persis yang diingatkan oleh para pemikir Islam.
Juliansyah: Pemikir Islam seperti siapa, Uda?
Ade Indra Chaniago: Imam Al-Ghazali, misalnya. Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, beliau menulis bahwa “kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan pemimpin, dan kerusakan pemimpin disebabkan oleh kerusakan para ulama, dan kerusakan ulama disebabkan oleh cinta harta dan kedudukan.” Ini relevan dengan apa yang kita lihat hari ini.
Andi Wijaya: Dan Ibnu Taimiyah menambahkan bahwa “Allah menolong negara yang adil, meskipun kafir; tetapi Allah tidak menolong negara yang zalim, meskipun Muslim.” Ini menunjukkan bahwa keadilan adalah fondasi peradaban, bukan sekadar simbol agama.
Ferry Lesmana: Jadi, kalau kita kembali ke artikel Gramsci yang kita bahas minggu lalu—’zaman monster’ yang dimaksudnya adalah ketika hegemoni lama runtuh dan belum ada hegemoni baru, itu juga terjadi di Indonesia sekarang?
Indra Darmawan: Tepat sekali! Dan ini adalah titik temu antara pemikiran Adorno-Horkheimer tentang dialektika pencerahan dengan pemikiran Gramsci tentang hegemoni. Keduanya menggambarkan krisis peradaban. Tapi di sinilah Islam memberikan solusi: keseimbangan.
Ade Indra Chaniago (berdiri, berjalan ke arah matahari pagi): Mari kita ambil contoh nyata dari kehidupan masyarakat Islam yang baik. Di masa Khalifah Umar bin Khattab, keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu. Suatu malam, Umar berjalan sendirian di Madinah dan mendengar tangisan anak kecil karena lapar. Tanpa pikir panjang, ia memikul sendiri karung gandum dari baitul mal, lalu memasak untuk mereka. Ketika ajudannya menawarkan bantuan, Umar berkata: “Apakah kamu akan memikul dosaku di hari kiamat?”
Juliansyah: Itu contoh kepemimpinan yang melayani, bukan dilayani.
Ade Indra Chaniago: Ya. Dan di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, hampir tidak ada orang yang mau menerima zakat karena semua orang sudah hidup cukup. Itulah masyarakat yang adil dan sejahtera. Bandingkan dengan sekarang, zakat dan pajak masih sering dikorupsi, rakyat kecil masih kelaparan.
Andi Wijaya: Tapi Uda, bukankah kita juga punya contoh tokoh Islam modern yang mencoba menghidupkan kembali semangat itu? Seperti Mohammad Natsir, yang memperjuangkan Islam yang moderat dan demokratis.
Ferry Lesmana: Dan Gus Dur, yang mengajarkan bahwa keadilan bukan hanya untuk yang kuat, tetapi juga untuk yang lemah dan minoritas. Beliau berkata, “Keadilan sejati hanya bisa tercapai jika kita mendengarkan suara nurani dan bertindak dengan integritas.”
Indra Darmawan: Jangan lupakan Buya Syafii Maarif, yang mengkritik politisi kita: “Negeri ini surplus politisi, minus negarawan.” Beliau juga mengingatkan bahwa “politik tidak lagi ditujukan untuk mencapai keadilan sosial dan kesejahteraan seluruh rakyat sebagaimana dicita-citakan para pendiri bangsa.”
Ade Indra Chaniago (kembali duduk, menatap semua orang dengan serius): Saudara-saudara, mari kita tutup dengan sebuah refleksi. Adorno dan Horkheimer menulis Dialektika Pencerahan sebagai ‘pesan dalam botol’ sebuah harapan di tengah keputusasaan. Mereka melihat bahwa pencerahan telah gagal, bahwa akal instrumental telah berubah menjadi alat penindasan. Tapi mereka tidak menawarkan jalan keluar.
Juliansyah: Lalu, apa jalan keluarnya, Uda?
Ade Indra Chaniago: Jalan keluarnya adalah kembali ke fitrah. Kembali pada nilai-nilai keadilan, kebersamaan, dan kemanusiaan yang diajarkan oleh semua agama dan peradaban besar. Kembali pada semangat gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Kembali pada ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin rahmat bagi seluruh alam.
Ferry Lesmana: Tapi bagaimana caranya, Uda?
Ade Indra Chaniago: Mulai dari hal-hal kecil. Seperti yang kita lakukan sekarang—duduk bersama, berdiskusi, saling mendengarkan. Seperti yang dilakukan oleh para filsuf Yunani di Agora, seperti yang dilakukan oleh para ulama di majelis ilmu, seperti yang dilakukan oleh para pendiri bangsa di ruang-ruang perjuangan. Kesadaran adalah awal dari perubahan. Dan kesadaran lahir dari dialog, dari pertukaran gagasan, dari keberanian untuk berpikir kritis.
Indra Darmawan (menambahkan): Dan ingatlah, seperti kata Socrates, “Hidup yang tidak diuji tidak layak untuk dijalani.” Kita harus terus menguji diri kita sendiri, menguji pemimpin kita, menguji sistem kita. Jangan pernah berhenti bertanya: “Apakah ini adil? Apakah ini benar? Apakah ini membawa kesejahteraan bagi rakyat?”
Andi Wijaya (mengangguk): Dan seperti kata Al-Farabi, “Pemerintahan terbaik adalah yang didasarkan pada akal dan keadilan.” Bukan pada kekuasaan, bukan pada harta, bukan pada popularitas.
Ferry Lesmana (tersenyum): Jadi, perjuangan kita adalah perjuangan untuk menegakkan akal dan keadilan. Perjuangan untuk mencegah pencerahan berubah menjadi kegelapan baru. Perjuangan untuk memastikan bahwa ‘zaman monster’ yang dikhawatirkan Gramsci tidak pernah benar-benar datang.
Juliansyah: Dan perjuangan itu dimulai dari sini, dari situs purbakala ini, dari warung kopi kita, dari setiap sudut kampung halaman kita.
Ade Indra Chaniago berdiri, menatap keempat rekannya dengan mata berkaca-kaca. Suara azan Jumat mulai berkumandang dari masjid di kejauhan.
Ade Indra Chaniago: Saudara-saudara, izinkan saya menutup dengan pesan dari seorang penyair sufi, Jalaluddin Rumi:
“Kamu bukan setetes air di lautan. Kamu adalah lautan dalam setetes air.”
Kita semua kecil atau besar, miskin atau kaya, berpendidikan atau tidak, kita semua adalah bagian dari lautan peradaban ini. Dan setiap tetes air memiliki kekuatan untuk mengubah lautan. Maka jangan pernah meremehkan kekuatan satu suara, satu langkah, satu tindakan kecil. Karena dari situlah peradaban baru lahir, peradaban yang adil, yang bijaksana, yang membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
Mereka semua berdiri. Matahari pagi semakin tinggi, menyinari sisa-sisa bata kuno Sriwijaya. Lima orang itu berjalan menuju masjid untuk melaksanakan salat Jumat, dengan tekad baru di hati mereka.
Palembang, 17 Juli 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen








Leave a Reply