Warung kopi “Kopi Nenek” di sudut Pasar 16 Ilir, Palembang. Usai salat Ashar, matahari mulai condong ke barat, menerobos celah-celah atap seng. Di meja kayu sederhana, empat gelas kopi hitam pekat mengepul. Sepiring kue dan pisang goreng menemani. Ade Indra Chaniago duduk di sisi utara, Indra Darmawan di sampingnya dengan buku catatan terbuka. Di hadapan mereka, Ferry Lesmana dan Juliansyah tampak memperhatikan aktifitas pedagang dan pembeli sedang tawar menawar. Di balik meja, Nenek Rohani pemilik warung kopi berusia 70 tahun sesekali menyelipkan komentar sambil menyeduh kopi. Suara pasar yang mulai sepi menjadi latar perbincangan.
Ferry Lesmana: (menunjuk ke arah kertas di atas meja) Uda, saya bawa artikel ini dari kemarin. Tentang Machiavelli. Saya dulu kira Machiavelli itu filsuf jahat, yang mengajarkan pemimpin untuk menipu dan memanipulasi. Tapi artikel ini bilang, Machiavelli sebenarnya membela kebebasan republik. Katanya, ancaman terbesar bagi kebebasan adalah perilaku buruk kaum elit. Mereka semakin banyak mencadangkan sumber daya untuk diri sendiri, membatasi partisipasi rakyat. Saya jadi ingat politisi kita sibuk memperkaya diri, sementara rakyat di Tulung Selapan kelaparan.
Nenek Rohani: (meletakkan gelas kopi di atas meja) Eh, anak-anak, saya dengar kalian bicara tentang politisi. Saya jualan kopi di sini sudah 40 tahun. Saya lihat pergantian bupati, gubernur, presiden berganti-ganti. Tapi nasib saya tetap sama. Harga kopi naik, harga beras naik, tapi penghasilan saya? Tetap. Politisi datang ke sini pas kampanye, foto-foto, minum kopi gratis, janji macam-macam. Begitu terpilih, hilang. Empat tahun kemudian, datang lagi. Itu yang saya lihat. Saya tidak tahu Machiavelli, tapi saya tahu orang yang janji manis tapi ingkar.
Juliansyah: (mengangguk) Nenek benar. Di Ogan Ilir, kami juga merasakan. Politisi datang dengan amplop, janji membangun jalan, membangun sekolah. Begitu terpilih, yang dibangun hanya rumah sendiri, mobil sendiri, rekening sendiri. Saya jadi ingat kata Machiavelli yang dikutip artikel ini: “Orang-orang tidak bahagia ketika keadaan berjalan buruk dan tidak puas ketika keadaan berjalan baik.” Jadi, bagi Machiavelli, kebahagiaan bukan tujuan politik. Tujuan politik adalah kebebasan, bebas dari kekuasaan sewenang-wenang orang lain.
Ade Indra Chaniago: (tersenyum, menyesap kopi) Kalian berdua dan Nenek Rohani sudah menyentuh inti pemikiran Machiavelli. Mari kita bedah bersama. Machiavelli putra pengacara dari Florence, Italia, hidup di abad ke-16. Ia mengalami langsung jatuh bangunnya kekuasaan. Ketika republik Florence jatuh dan keluarga De’ Medici kembali berkuasa, Machiavelli dipenjara dan diasingkan. Di pengasingan itulah ia menulis Il Principe dan Discorsi.
Indra Darmawan: (membuka catatan) Dan yang menarik, Uda, seperti yang diungkap Tinneke Beeckman, filsuf Flandria, Machiavelli sering disalahpahami. Banyak orang menganggapnya sebagai filsuf yang mengajarkan manipulasi. Tapi Beeckman menemukan bahwa reputasi buruk Machiavelli terutama disebabkan oleh pendapatnya bahwa gereja seharusnya tidak memainkan peran politik. Di kalangan agamawan, ia dicap sebagai iblis.
Nenek Rohani: (menyela sambil mengelap gelas) Dulu waktu saya masih muda, ada pemimpin kampung yang rajin ke masjid, rajin mengaji, tapi korupsi uang desa. Saya jadi bingung, orang rajin ibadah tapi tidak jujur. Machiavelli itu bilang apa tentang orang begitu?
Angin sore berhembus pelan, membawa bau khas pasar. Ade Indra Chaniago menatap Nenek Rohani dengan teduh.
Ade Indra Chaniago: Nenek, Machiavelli membedakan antara fungsi publik dan pribadi. Dalam Il Principe, ia menulis bahwa seorang pemimpin politik memiliki dua peran yang berbeda. Yang terjadi sekarang, banyak pemimpin mencampuradukkan keduanya, mereka menggunakan jabatan publik untuk kepentingan pribadi. Machiavelli juga mengajarkan bahwa kebajikan (virtù) adalah kunci. Tapi kebajikan di sini bukan soal menyangkal diri, itu soal mengembangkan potensi diri, berupaya menjadi unggul, dan berbuat baik bagi komunitas.
Ferry Lesmana: (menepuk meja) Itu yang hilang dari politisi kita, Uda! Kebajikan. Mereka tidak lagi dipilih karena kebajikan, tapi karena popularitas. Machiavelli mengatakan: “Jika politisi tidak lagi dipilih karena kebajikan mereka, tetapi karena popularitas mereka, maka akhir politik sudah dekat.” Di sejumlah desa, yang menang pilkades bukan yang paling jujur, tapi yang paling banyak bagi-bagi sembako dan amplop.
Juliansyah: (menambahkan) Dan Machiavelli juga mengajarkan bahwa konflik antara elit dan rakyat justru mendorong kebebasan. Tapi di Indonesia, konflik itu tidak sehat. Elit menggunakan kekuasaan untuk membungkam rakyat. UU ITE digunakan untuk menangkap kritikus. Aparat membubarkan demo. Itu bukan konflik yang sehat, itu penindasan.
Ade Indra Chaniago: (mengangguk) Dan di sinilah kita bisa membandingkan dengan pemikiran Ibnu Khaldun, filsuf Islam terbesar. Ibnu Khaldun mengajarkan bahwa solidaritas sosial (al-‘ashabiyyah) adalah fondasi peradaban. Ketika solidaritas itu hilang, ketika elit hanya sibuk memperkaya diri, ketika rakyat tidak lagi percaya pada pemimpin, maka peradaban akan runtuh.
Indra Darmawan: (membuka catatan) Saya juga ingat Al-Farabi, filsuf Islam yang dijuluki Mu’allim Tsani (Guru Kedua). Dalam konsep Al-Madinah Al-Fadhilah negara utama, Al-Farabi mengatakan bahwa pemimpin harus memiliki kebijaksanaan, keadilan, dan kemampuan membawa rakyat pada kebahagiaan sejati. Pemimpin yang hanya sibuk dengan kekuasaan, tanpa memperhatikan rakyat, adalah pemimpin yang zalim. Dan seperti kata Imam Al-Ghazali: “Sesungguhnya kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan pemimpin, dan kerusakan pemimpin disebabkan oleh cinta harta dan kedudukan.”
Nenek Rohani menyodorkan pisang goreng ke tengah meja. Matanya berkaca-kaca.
Nenek Rohani: Saya dulu punya tetangga, anaknya pintar, lulus SMA dengan nilai bagus. Tapi orang tuanya miskin, tidak bisa kuliah. Dia minta beasiswa ke desa, katanya beasiswa untuk orang miskin. Tapi yang dapat justru anaknya pak lurah. Anak tetangga saya sampai sekarang cuma jadi buruh bangunan. Saya tanya ke pak lurah, katanya “sudah prosedur”. Prosedur apa? Prosedur untuk menolong anak orang kaya?
Ferry Lesmana: (suara lirih) Itu yang terjadi di mana-mana, Nenek. Itu yang disebut ketidakadilan yang terstruktur. Machiavelli mengajarkan bahwa tujuan politik adalah kebebasan. Tapi di Indonesia, rakyat tidak bebas, mereka terbelenggu oleh kemiskinan, oleh ketidakadilan, oleh sistem yang korup.
Ade Indra Chaniago: (menatap Nenek Rohani dengan simpati) Nenek, Machiavelli juga mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus berbuat baik bagi komunitasnya, bahkan jika ia sendiri menderita kerugian. Ia menulis: “Aku mencintai kotaku lebih dari jiwaku.” Itulah cinta pada tanah air dan rakyat. Tapi politisi kita sekarang lebih mencintai jabatan dan kekayaan daripada rakyat.
Matahari mulai tenggelam. Lampu-lampu pasar mulai menyala. Ade Indra Chaniago mengangkat gelas kopinya.
Ade Indra Chaniago: Saudara-saudara, mari kita lihat contoh kepemimpinan yang baik dan buruk.
Pertama, kepemimpinan yang baik. Kita punya Bung Hatta Wakil Presiden pertama Indonesia. Beliau hidup sederhana, bahkan saat menjabat. Ketika menerima gaji, beliau menolak mengambil bagian untuk diri sendiri. Beliau berkata: “Kekuasaan adalah amanah, bukan untuk diperkaya.” Hatta juga memperjuangkan koperasi sebagai demokrasi ekonomi, memberdayakan rakyat kecil, bukan segelintir konglomerat. Machiavelli akan mengatakan Hatta memiliki virtù kebajikan sejati.
Kedua, Gus Dur Presiden ke-4 Indonesia. Beliau menggabungkan nilai-nilai sufisme dengan perjuangan untuk kemanusiaan, keadilan, dan pluralisme. Beliau mengajarkan bahwa kekuasaan harus digunakan untuk membela yang lemah, bukan untuk menindas. Machiavelli akan mengatakan Gus Dur adalah pemimpin yang memahami konflik yang sehat antara kepentingan berbeda, tapi ia tidak pernah mempertanyakan legitimasi kelompok lain.
Ketiga, Baharuddin Lopa Jaksa Agung di era Gus Dur. Beliau dikenal sebagai petani keadilan, seorang pejuang yang membela kaum miskin dan tertindas. Beliau mendirikan Pos Bantuan Hukum untuk rakyat kecil. Machiavelli akan mengatakan Lopa adalah pemimpin yang berani campur tangan ketika melihat ketidakadilan, tidak membiarkan segala sesuatu berjalan begitu saja.
Juliansyah menyeduh kopi ke gelasnya yang hampir habis. Nenek Rohani mendengarkan dengan saksama.
Juliansyah: (menyambung) Tapi kita juga punya contoh kepemimpinan yang buruk, Uda. Mantan pejabat di Sumatera Selatan sudah tiga kali menjadi tersangka korupsi: Pasar Cinde, Masjid Sriwijaya, dan pembelian gas bumi. Proyek-proyek rakyat yang seharusnya membangun kesejahteraan, malah menjadi lahan korupsi. Pasar Cinde yang mangkrak sampai sekarang menjadi monumen keserakahan. Machiavelli akan mengatakan pejabat tersebut adalah elit yang menimbun sumber daya untuk diri sendiri, membatasi partisipasi rakyat.
Ferry Lesmana: (menambahkan) Dan contoh lain kasus korupsi Bansos di NTT, uang bantuan untuk rakyat miskin dipotong untuk “biaya operasional” partai. Rakyat yang kelaparan, sementara politisi sibuk mengembalikan modal kampanye. Machiavelli akan mengatakan ini adalah penyimpangan pertama dari republik bebas, ketika politisi tidak lagi dipilih karena kebajikan, tapi karena popularitas dan uang.
Nenek Rohani: (menghela napas) Saya jadi ingat kata Buya Hamka. Beliau berkata: “Berani menegakkan keadilan walaupun mengenai diri sendiri, adalah puncak segala keberanian.” Tapi pemimpin kita sekarang mana keberanian? Yang ada malah berani korupsi, berani curang, berani pamer harta. Machiavelli mungkin akan berkata: “Kebajikan telah hilang, dan akhir politik sudah dekat.”
Ade Indra Chaniago mengangkat gelas kopinya yang terakhir. Malam mulai turun. Lampu-lampu pasar menyala terang.
Ade Indra Chaniago: Saudara-saudara, mari kita simpulkan sore ini di Pasar 16 Ilir, ditemani kopi dari Nenek Rohani.
Pertama, Machiavelli mengajarkan bahwa tujuan politik adalah kebebasan, bebas dari kekuasaan sewenang-wenang. Ancaman terbesar kebebasan adalah perilaku buruk kaum elit yang menimbun sumber daya dan membatasi partisipasi rakyat.
Kedua, Machiavelli mengajarkan kebajikan (virtù) bukan menyangkal diri, tapi mengembangkan potensi, berbuat baik bagi komunitas, dan berani campur tangan ketika melihat ketidakadilan. Jangan biarkan segala sesuatu berjalan begitu saja.
Ketiga, Machiavelli mengajarkan bahwa konflik antara elit dan rakyat adalah sehat, tapi konflik itu harus sehat, bukan penindasan. Dan ia membedakan antara ranah publik dan pribadi, politik bukanlah masalah pribadi.
Keempat, para tokoh Islam Ibnu Khaldun, Al-Farabi, Al-Ghazali, Buya Hamka semua mengajarkan bahwa pemimpin adalah amanah, bahwa keadilan adalah tujuan negara, dan bahwa rakyat berhak menuntut.
Kelima, kita punya contoh kepemimpinan yang baik—Bung Hatta, Gus Dur, Baharuddin Lopa, dan kepemimpinan yang buruk. Perbedaannya adalah pada kebajikan dan tanggung jawab.
Ade Indra Chaniago berhenti, menatap keempat sahabatnya satu per satu. Nenek Rohani mengusap matanya dengan ujung celemek.
Ade Indra Chaniago: Pesan kehidupan saya untuk kita semua:
“Machiavelli bukanlah filsuf kejahatan. Ia adalah dokter politik yang mengingatkan kita bahwa kebebasan adalah tujuan tertinggi, dan kebajikan adalah jalannya. Ia mengajarkan bahwa kita harus berani campur tangan ketika melihat ketidakadilan, dan bahwa pemimpin harus berbuat baik bagi komunitasnya bahkan jika ia sendiri menderita kerugian.”
“Para tokoh Islam mengajarkan bahwa pemimpin adalah amanah, dan keadilan adalah fondasi negara. Tokoh idealis Indonesia mengajarkan bahwa demokrasi tanpa keadilan sosial adalah kemunafikan.”
“Mari kita mulai dari yang kecil, dari warung kopi ini, dari Pasar 16 Ilir ini, dari Tulung Selapan, dari Ogan Ilir. Karena seperti kata Machiavelli: ‘Anda tidak boleh membiarkan segala sesuatu berjalan begitu saja.’ Dan seperti kata Buya Hamka: ‘Berani menegakkan keadilan walaupun mengenai diri sendiri, adalah puncak segala keberanian.'”
“Dan ingatlah: Nenek Rohani dan warung kopinya yang sederhana ini adalah saksi bahwa di Palembang, masih ada yang percaya pada keadilan, pada kebajikan, dan pada kepemimpinan yang sejati.”
Ferry, Juliansyah, dan Nenek Rohani mengangguk perlahan. Indra Darmawan menutup buku catatannya. Di kejauhan, lampu-lampu Pasar 16 Ilir mulai meredup, tapi di hati mereka, cahaya harapan masih menyala.
Ferry Lesmana: (tersenyum) Uda, saya akan bawa ini ke Tulung Selapan. Saya akan mulai berbicara. Saya akan mengajak tetangga saya berdialog. Dan saya akan ingat kata Machiavelli: “Jangan biarkan segala sesuatu berjalan begitu saja.”
Juliansyah: (mengangguk) Dan saya akan sampaikan ke masyarakat Ogan Ilir. Bahwa kebajikan itu penting, dan kita harus menuntut kebajikan dari para pemimpin kita.
Nenek Rohani: (tersenyum lebar) Anak-anak, kalau kalian semua seperti ini, Indonesia masih punya harapan. Saya sudah tua, tapi saya senang melihat anak muda peduli. Mari kita jaga warung kopi ini tempat orang-orang baik berkumpul dan berbicara tentang keadilan.
Ade Indra Chaniago: (berdiri, merapikan kemeja) Mari kita pulang. Tapi ingat: perjuangan menegakkan kebajikan dan keadilan tidak pernah usai. Ia hanya berganti bentuk. Seperti kopi di gelas ini pahit, tapi menghangatkan. Seperti politik di negeri ini rumit, tapi masih bisa diperbaiki. Dan seperti Machiavelli, ia bukan iblis, tapi dokter politik yang mengingatkan kita akan tanggung jawab kita sebagai warga negara.
Mereka melangkah keluar dari warung kopi. Di belakang mereka, Nenek Rohani masih menyeduh kopi untuk pelanggan berikutnya. Lampu-lampu Pasar 16 Ilir menyala redup—menyaksikan percakapan tentang Machiavelli, kebajikan, dan kepemimpinan—di negeri yang masih berjuang untuk menemukan jalannya.
Palembang, 11 Juli 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen








Leave a Reply